The Other Side of Barcode

The Other Side of Barcode

Barcode atau dalam Bahasa Indonesia berarti kode batang, lazim kita temui pada suatu produk ketika kita bertransaksi melalui toko retail. Dalam proses jual beli tersebut kita melihat bahwa transaksi menjadi lebih cepat hanya dengan melakukan scan/pemindaian barcode, maka identitas barang yang dibeli langsung teridentifikasi. Apa sebenarnya barcode itu? Haruskah sebuah produk memiliki barcode? Lebih lanjut IS Creative akan mengulas tentang barcode dalam artikel edisi berikut ini.

Contoh Barcode
Contoh Barcode
Sumber: http://www.dalesman.co.uk/press/hi-res/Yorkshire Large 2013 barcode.jpg

Barcode adalah kumpulan kode yang berbentuk garis vertikal, dimana masing-masing ketebalan setiap garis berbeda sesuai dengan kodenya. Kode tersebut menyimpan data-data spesifik seperti kode produksi, nomor identitas, dan data-data lain sehingga sistem komputer dapat mengidentifikasi dengan mudah informasi yang ada di dalam barcode.

Sejak digunakan oleh Wallace Flint pada 1932 untuk sistem pemeriksaan barang di perusahaan retail dan dipatenkan oleh Bernard Silver dan Norman Joseph Woodland, barcode kini telah menjadi sebuah kebutuhan dalam proses identifikasi produk di Indonesia. Awalnya, teknologi kode batang dikendalikan oleh perusahaan retail, lalu diikuti oleh perusahaan industri. Kini, berdasarkan penggunaannya barcode dibagi menjadi 6, yakni barcode untuk kepentingan retail, packaging, penerbitan, farmasi, non retail, dan keperluan lain.

Jenis barcode diantaranya adalah EAN (European Article Number, barcode untuk retail di Eropa dan seluruh dunia kecuali Amerika dan Kanada), UPC (Universal Product Code, banyak digunakan di Kanada dan Amerika Serikat), Interleaved 2 of 5 (ITF), Code 39, Codabar, dan Code 128. Di Indonesia sendiri tipe barcode yang paling sering digunakan adalah tipe EAN 13, yaitu kode barcode dengan 13 digit. Jumlah 3 kode awalnya merupakan kode negara Indonesia (899), 4 angka berikutnya menunjukkan kode perusahaan. Selanjutnya, lima angka secara berturut-turut merupakan kode produk dan angka terakhir berupa validasi atau cek digit.

Barcode tipe EAN 13
Barcode tipe EAN 13
Sumber: https://www.barcodes.co.nz/wp-content/uploads/2011/10/samplejpg.jpg

Di Indonesia, terdapat GS1 Indonesia dimana organiasasi tersebut merupakan satu-satunya organisasi yang diberi wewenang oleh GS1 Global untuk mengalokasikan dan mengurus penomoran barcode standard GS1 System di Indonesia. Dengan mendaftarkan kode barcode perusahaan ke GS1, maka perusahaan tersebut akan mendapatkan kode barcode khusus yang tidak akan bisa diduplikasi oleh perusahaan lain. Jenis barcode yang dipakai di GS1 cukup beragam, akan tetapi yang banyak digunakan adalah EAN 13 (informasi selengkapnya dapat diperoleh melalui: gs1id.org.

Apakah barcode hanya digunakan ketika produk akan memasuki pasar retail? Jawabannya adalah TIDAK. Sebab, kita dapat membuat barcode yang tidak terdaftar untuk kepentingan operasional kita secara internal. Sejumlah klien IS Creative pun beberapa kali mengajukan permintaan pembuatan barcode dan pencantuman barcode tersebut dalam kemasan produk mereka. Barcode yang digunakan secara internal seperti ini dapat diperoleh secara gratis, salah satunya melalui Barcode Generator di www.barcode-generator.org/.

Menyertakan barcode pada kemasan produk memiliki banyak keuntungan. Diantara keuntungan tersebut adalah membuat proses input data lebih cepat dan tepat,  dapat mengurangi biaya karena adanya barcode mampu mengindari kerugian dari kesalahan pencatatan manual, peningkatan kinerja manajemen, dan memiliki nilai tawar lebih tinggi.

Dalam penggunaannya, bentuk barcode ternyata bisa tampil dengan desain yang lebih unik. Misalnya desain barcode yang ada dalam kemasan saus sambal berikut ini. Desain garis vertikal barcode tersebut divariasi dengan bentuk-bentuk hewan tanpa mengurangi lebar jarak, ketebalan garis, dan kontras warna, sehingga identitas di dalamnya tetap dapat terbaca oleh mesin scanner. Desain yang menggunakan konsep suku Aztec ini berhasil membawa desainernya, Steve Simpson, memenangkan Gold Bell Award for Packaging Design in ICAD 2013.

Desain barcode saus sambal
Desain barcode saus sambal
Sumber: http://media02.hongkiat.com/creative-barcodes/creative-barcode.jpg
Barcode saus sambal dengan konsep Aztec
Barcode saus sambal dengan konsep Aztec
Sumber: https://www.mavericklabel.com/blog/creative-barcode-design-to-amp-up-your-branding/

Serupa dengan desain barcode saus sambal di atas, desain saus barbeque di bawah ini tidak mendesain garisnya menjadi bentuk yang unik, melainkan dengan menambahkan desain di atas barcode.

Barcode saus barbeque
Barcode saus barbeque
Sumber: http://designyoutrust.com/wp-content/uploads/2013/10/Creative-Barcode-with-packaging-5.jpg

Desain yang satu ini tak kalah unik, yakni dengan mengklamufasekan barcode sebagai gigi kucing. Barcode yang juga didesain oleh Steve Simpson ini digunakan dalam sebuah produk shampo hewan.

Desain barcode dalam kemasan shampo hewan
Desain barcode dalam kemasan shampo hewan
Sumber: https://www.mavericklabel.com/blog/creative-barcode-design-to-amp-up-your-branding/

Tidak hanya terdapat dalam kemasan, barcode dengan desain yang unik ini juga dijumpai di dalam sebuah cover White beam Album. Desainnya pun disesuaikan dengan penggunaannya, yakni berupa barcode berbentuk alat musik drum karena letaknya yang ada di dalam sebuah cover album.

Barcode berbentuk drum
Barcode berbentuk drum
Sumber: http://thegrid.soup.io/since/354443326?mode=own

Barcode dalam kemasan bir kalengan Payette Brewing Company ini tidak menampilkan garis vertikal secara utuh. Garis vertikalnya terpotong di tengah-tengah sehingga membentuk sebuah desain kepala seseorang yang sedang menunduk. Payette Brewing Company mengklaim bahwa dengan desain barcode ini penjualan bir meningkat hingga mencapai angka penjualan yang ditargetkan.

Barcode dalam kemasan bir kalengan
Barcode dalam kemasan bir kalengan
Sumber: http://www.vanitybarcodes.com/wp-content/uploads/2012/12/work-detail-shot2.jpg

Pernah mendengar merek Faber Castell bukan? di Indonesia, Faber Castell cukup dikenal sebagai salah satu merek pensil warna. Perusahan ini rupanya juga menggunakan barcode yang unik, yakni dengan menggunakan beragam warna di dalam desain barcode. Tidak hanya itu, barcode yang didesain oleh Filipe Daniel ini pun memiliki bentuk yang berbeda dengan barcode lain, yakni berupa istana/kastil. Sayangnya, desain ini tidak ditemukan dalam kemasan Faber Castell yang ada di Indonesia.

Desain Barcode Faber Castell
Desain Barcode Faber Castell
Sumber: http://www.hongkiat.com/blog/creative-barcodes/

Banyak pelaku bisnis yang belum menyadari pentingnya penggunaan barcode dalam kemasan produk. Meski tampaknya sederhana, namun cukup banyak keuntungan yang diperoleh jika sebuah produk memiliki barcode. IS Creative pun kini tengah membantu sejumlah klien yang membutuhkan adanya barcode dalam kemasan produk mereka. Bagaimana dengan Anda, apakah Anda sudah mulai menyertakan barcode dalam produk Anda?