Pelukis Sinema Tertinggal Masa

Pelukis Sinema Tertinggal Masa

Kesuksesan sebuah film tidak hanya ditunjang oleh peran sutradara, skenario, atau pemerannya saja. Poster film juga turut menunjang kesuksesan tersebut. Terbukti dalam beberapa ajang penghargaan film nasional, poster film juga dimasukkan dalam nominasi penghargaan.

Namun tahukah kamu bahwa beberapa dekade lalu poster film yang dipajang pada gedung bioskop itu merupakan hasil lukisan tangan di atas kain? Dan pelukisnya pernah menikmati masa kejayaan pada era ’70 – ’90an?

Poster film pertama produksi Indonesia berjudul "Loetoeng Kasaroeng" pada tahun 1926.
Tirtajaya, Pemilik studio poster lukis “Rizkylillah”, Jakarta Source: hot.detik.com

Pada era kejayaan poster film lukis, cukup banyak orang yang menggeluti usaha ini hingga studio poster lukis pun banyak bermunculan, salah satunya adalah Tirtajaya. Pemilik Studio Rizkylillah di Petamburan Jakarta ini mengaku saat poster lukis masih berjaya sekitar tahun ’70an, ia mampu membeli mobil mewah keluaran Eropa. Bahkan, wartawan asing dari Amerika, Roma, Italia, Selandia Baru, hingga Perancis datang untuk melakukan wawancara karena kagum dengan keterampilannya melukis poster film.

Padahal, nama-nama dari para pelukis poster di era tersebut sama terkenalnya seperti sutradara.

Tirtajaya – Pemilik studio lukis poster film “Rizkilyllah”, Jakarta
Tirtajaya, Pemilik studio poster lukis "Rizkylillah", Jakarta
Tirtajaya, Pemilik studio poster lukis “Rizkylillah”, Jakarta Source: hot.detik.com

Teknik pembuatan poster lukis ini sebenarnya sederhana dan tidak ada ilmu khusus, sebab kebanyakan pelukis poster memperoleh keterampilan melukis secara otodidak. Menurut penuturan Yasin, salah satu pelukis poster di Jakarta, ia cukup menggunakan contoh poster yang diberikan pemesan, kemudian membuat skema berupa kotak-kotak berukuran 5 – 10 cm untuk dijadikan acuan. Tidak perlu sketsa, para pelukis langsung membuat lukisan dengan kuas.

Yasin, pelukis poster film, Jakarta
Yasin, pelukis poster film, Jakarta Source: obrolankopi.files.wordpress.com
Poster yang telah dibuat skema
Poster yang telah dibuat skema Source: obrolankopi.files.wordpress.com

Ukuran poster yang dibuat cukup bervariasi, biasanya berukuran 2m x 4m, 4m x 4m, atau tergantung pada besar gedung tempat poster tersebut dipasang. Bidang yang digunakan untuk membuat poster lukis adalah kain belacu dan cat tembok supaya gambar tidak rontok dan lebih cepat kering. Satu buah poster biasanya memiliki masa pengerjaan setengah hari sampai satu hari dan dibutuhkan 2 orang tukang gambar serta 1 orang tukang letter (sebutan untuk pembuat teks) untuk menyelesaikannya.

Yasin sedang mengerjakan poster film "Buried"
Yasin sedang mengerjakan poster film “Buried” Source: obrolankopi.files.wordpress.com

Pada awal era digital selisih harga antara poster lukis dan cetak digital masih cukup tinggi, sehingga poster lukis masih banyak diminati. Meski saat ini pun poster lukis masih memiliki tarif yang lebih murah, namun banyak pelaku industri film yang memilih poster cetak digital karena dinilai lebih cepat dan lebih bagus hasilnya. Hal inilah yang akhirnya membuat para pelukis poster sepi order dan hanya mengerjakan jenis poster film tertentu.

Namun, kondisi demikian tampaknya tidak berlaku bagi Kemal Rahman yang justru membuka studio lukis poster saat poster film lukis tak banyak lagi dilirik. Berkat upayanya memasarkan jasa ke setiap PH (production house) dan bioskop, studio lukis film yang ia dirikan sejak tahun 2003 ini tak hanya membuat poster film untuk bioskop kawasan Jakarta, tapi juga ke daerah seperti Batam, Manado, Makassar, dan Sumatera.

Banyak seniman poster lukis yang sudah meninggalkan profesi mereka, tapi tak sedikit dari mereka yang tetap bertahan, misalnya saja Ahmad Ridwan Tanjung yang telah menghasilkan ratusan karya sejak tahun ’80-an. Cahya Studio yang didirikannya di bilangan Srengseng Jakarta, menerapkan strategi produksi poster dengan dua cara, yakni manual dan cetak digital. Begitu pula dengan Tirtajaya, dia pun membuka usaha digital printing disamping usaha studio lukis posternya agar usahanya tetap bisa berjalan dan tak tergilas perkembangan teknologi.

Ahmad Ridwan Tanjung
Ahmad Ridwan Tanjung Source: www.tnol.co.id

Kini, sudah sulit menemui generasi penerus seniman lukis poster. Kurangnya atensi dari dunia perfilman membuat generasi muda ogah menekuni profesi tersebut. Terlebih lagi, dunia digital saat ini sudah sedemikian canggih dan karya-karya yang baik juga sudah dapat dihasilkan tanpa melalui proses duplikasi yang panjang.

IS Creative sebagai sebuah agensi desain sangat menghargai para desainer dan seniman, terlebih kepada mereka yang membawa kontribusi bagi perkembangan dunia desain di Indonesia. Selamat Hari Film Nasional Indonesia (30 Maret 1950 – 30 Maret 2016), semoga mereka yang terus berkarya tanpa lelah mampu menjadi inspirasi bagi kita semua untuk tetap semangat dan berani berkarya.